New to site?


Login

Lost password? (close)

Already have an account?


Signup

(close)
03
Apr
Maafkan Ibu Ya, Nak

Letty berulang kali melirik telpon selularnya dengan gelisah. Bola matanya berpindah-pindah cepat antara HP androidnya dengan kertas yang sedang dicoret-coret Nero. Ia memang sedang menjelaskan kepada Letty tentang unit-link dalam asuransi dan dia juga menangkap kegelisahan ibu muda tersebut.

“Sedang ada urusan lain?”, kata Nero sambil tersenyum.

“Eh…anu…mmm…iya sih. Ini sebenarnya tadi ada WA dari kantor. Kayaknya aku harus balik ke kantor deh. Gak pa pa?”, jawab Letty gugup.

“Ok, gak pa pa Letty. Yang saya sampaikan sudah 95% sih. Tadi itu tinggal pelengkapnya saja kok. Monggo, kalau harus balik kantor”, hibur Nero.

Sambil membereskan barang perlengkapan masing-masing mereka berdua meninggalkan resto ayam goreng Pak Charles.

Keesokan harinya saat Nero sedang membuka HP sebuah nada notifikasi berbunyi. Ada pesan WA yang masuk dari Letty. Dia bersedia bertemu dengan Nero dua hari kemudian di resto pak Charles lagi. Setelah menandai janji temu tersebut di smartphone-nya Nero beranjak menuju mobilnya.

Letty masuk ke dalam resto sambil celingukan mencari Nero. Tampak di sudut ruangan Nero sedang serius menyantap ayam gorengnya. Ibu muda itu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Nero yang kebetulan melempar pandangan ke arah pintu masuk resto.

“Maaf, telat. Tadi ada temen kantor yang ulang tahun”, jelas Letty.

“No, prob. Aku habisin ayamnya sebentar ya”, jawab Nero sambil menyeringai.

Sesuai kesepakatan mereka memang bertemu di resto tersebut setelah terakhir kali Letty dan Nero berdiskusi tentang perlindungan pendapatan 3 hari yang lalu di tempat yang sama.

“Ok, aku sudah selesai. Kamu bener-bener luang ni? Gak dikejar-kejar kerjaanmu lagi kan?”, gurau Nero.

“Gak. Jangan kuatir sekarang bener-bener longgar. Paling-paling Rio yang iseng kontak aku”, jawab Letty. Rio adalah putra kedua Letty yang baru duduk di bangku kelas 5 SD.

Nero mengenal Letty melalui Tora. Tidak banyak sebenarnya yang diketahui Nero tentang kehidupan Letty. Namun, Nero cukup mengetahui bahwa Letty adalah seorang ibu dengan dua orang anak, Jane & Rio. Karirnya lumayan lancar di sebuah perusahaan sekuritas. Selain itu, Letty adalah orang tua tunggal. Suaminya meninggal akibat kecelakaan mobil. Dan yang paling menarik perhatian Nero adalah Letty sangat sayang dengan anaknya, khususnya Rio. Hal itu tampak saat Letty bercerita tentang Rio matanya menjadi berbinar-binar penuh suka cita. Belum lagi status – status Letty di media sosial tentang Rio.

“Letty, apakah ada yang mau ditanyakan dulu tentang penjelasanku minggu lalu”, raut wajah Nero mulai serius.

Sambil berdehem, Letty membuka mulutnya, “Begini, Nero. Aku sudah paham penjelasanmu. Mungkin tinggal dikit-dikit saja yang perlu dikonfirmasi ulang. Tapi secara prinsip, aku udah clear”.

Letty melanjutkan, “Tapi, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya…kayaknya aku belum bisa ambil perlindungan sekarang deh. Bener-bener aku minta maaf”.

Nero hanya tersenyum simpul mendengarkan kalimat yang meluncur dari mulut Letty. Raut wajah Letty menunjukkan perasaan sungkan karena menolak saran Nero untuk segera memiliki proteksi pendapatan.

“Letty, sebagai agen asuransi, aku tidak akan marah atau kecewa jika kamu mengabaikan saranku tentang perlindungan pendapatan. Sepenuhnya itu hakmu untuk memilih mana yang terbaik buatmu dan anak-anakmu”, kata Nero. Sebelum melanjutkan, Nero mengamati raut muka Letty. Ekspresinya cenderung datar saja, namun masih menyimak perkataan Nero dengan serius.

Nero melanjutkan, “Aku paham, kamu minta maaf itu lebih karena sopan santun saja. Tapi, sebagai teman, aku bisa bilang bahwa permintaan maafmu itu salah alamat”.

Tiba-tiba Letty menyambar omongan Nero, “Kayak Ayu Ting-Ting dong ya…alamat palsu”. Sesaat mereka tergelak dan suasana sedikit mencair.

“Terus, minta maaf kepada siapa dong?”, Letty melanjutkan candanya.

“Minta maaflah ke Jane & Rio”, Nero menanggapi serius candaan Letty.

“Lho, kok bisa?”, Letty tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.

Nero beranalogi, “Jika seorang suami/istri terkena risiko kondisi sakit kritis, dokter pasti menyarankan langkah-langkah pengobatan. Sayangnya,  butuh dana ratusan juta rupiah minimal. Dari mana kira-kira si suami/istri itu mendapatkan dananya? Sementara rumah dan mobil masih nyicil, cadangan dana di rekening tidak cukup, dan tidak bisa cari utangan dengan kondisi kesehatan seperti itu. Kalopun aset-aset bisa dijual, bagaimana nasib keluarga bapak/ibu tersebut? Dan yang paling penting adalah bagaimana masa depan anak-anaknya? Dana cadangan untuk kehidupan, pendidikan & masa depan anak hampir pasti akan ikut terkuras karena orang tua belum mempersiapkan dana darurat untuk kondisi sakit kritis”.

Nero menghela napas sejenak sambil menatap Letty yang hanya diam menunduk. Letty mencoba menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dari pandangan Nero.

Saat yang bersamaan, seluler Letty berbunyi dan tampak foto Rio terpampang di layar tanda bahwa Rio sedang mencoba menghubungi Letty. Air yang berkumpul di mata Letty semakin tak terbendung dan jatuhlah tetes-tetes air mata membasahi meja resto. Letty diam saja tak mengangkat panggilan telpon dari Rio sampai akhirnya ring tone berhenti sendiri.

Nero mengangsurkan sapu tangan kepada Letty. Setelah Letty menyeka air matanya & berhasil menenangkan diri, Nero melanjutkan, “Itu sebabnya, Letty, aku menyarankan kamu minta maaf kepada anak-anakmu, Jane & Rio. Bukan kepada aku”.

Letty hanya mengangguk-angguk sambil berkata pelan, “Iya, aku paham. Coba deh, kita atur jadual ketemu lagi”.

“Tidak masalah. Kapanpun aku siap”, Nero menjawab.

Sukai & Bagikan Artikel Kami :

    Menu
    error: Mohon untuk tidak menyalin isi blog ini.