New to site?


Login

Lost password? (close)

Already have an account?


Signup

(close)
24
Apr
Nasi Sudah Menjadi Bubur

Sinta duduk termenung sambil memandangi cangkir teh setengah penuh di meja kecil di hadapannya. Tepat di seberang Sinta duduklah Dobi, sepupunya, dengan tatapan menerawang ke halaman belakang. Kopi di cangkir Dobi malah sudah tandas. Mereka nampaknya baru saja terlibat dalam perbincangan yang cukup panjang.

“Berat, Sin. Aku gak punya sejumlah uang yang kamu minta”, ucap Dobi.

“Aku gak minta, Dob…Cuma mau pinjam saja. Aku dan suamiku gak ada duit segitu,” Sinta mengoreksi.

Dobi tersenyum kecil sambil berkata, “Ya intinya aku tidak bisa menyediakan uang Rp 1,5 miliar yang kamu cari.”

“Cuma pinjam sebentar kok, Dob. Untuk bayar biaya balik nama atau pajak warisan atau apalah itu namanya…aku gak bisa jual pabrik warisan papa sebelum aku lunasi biaya-biaya itu. Pabrik masih atas nama papa. Lagipula aku juga gak bisa mengelola usaha papa. Aku gak ada minat & keterampilan di bidang itu. Ntar kalo udah terjual pabriknya pasti aku balikin plus komisi,” Sinta meluapkan kalimat-kalimat kegundahannya.

Dobi hanya diam sambil menatap pohon mangga di belakang rumah dengan pandangan kosong. Berkelebat dalam benaknya gambaran-gambaran 3 tahun lampau saat dia mempertemukan ayah Sinta dengan Nero.

Dobi, Tora, dan Nero memang tidak selalu sepaham tentang suatu hal. Tapi, khusus untuk asuransi, mereka bertiga seiya sekata bahwa mereka harus punya. Oleh karenanya, Dobi mempertemukan Nero dengan ayah Sinta dengan maksud supaya Nero bisa menyadarkan ayah Sinta tentang pentingnya memiliki perlindungan jiwa.

Sebagai seorang agen asuransi, Nero tentu saja punya dorongan moral untuk mengedukasi serta mengingatkan orang lain supaya segera memiliki proteksi. Namun, ayah Sinta dengan tegas menolak asuransi. Beliau memandang asuransi dari sudut pandang yang berbeda.

“Maaf, nak Nero…saya tidak pernah sreg dengan asuransi karena merasa tidak seharusnya jiwa saya dinilai dengan uang. Jiwa saya tak ternilai,” demikian ucapan ayah Sinta yang dilontarkan kepada Nero.

Dengan sabar Nero menjelaskan, “Jiwa tiap orang memang tak ternilai, pak. Asuransi tidak bermaksud merendahkan nilai jiwa seseorang. Yang ingin dilindungi asuransi sebenarnya adalah nilai kehidupan keluarga tersebut.”

Uraian dan penjelasan Nero tetap tidak mampu menggoyahkan pendirian ayah Sinta. Nilai kehidupan keluarga yang dimaksud Nero sebenarnya sangat sederhana. Jika sang pencari nafkah utama keluarga meninggal maka keluarga yang ditinggalkan bisa segera memanfaatkan uang pertanggungan dari asuransi untuk melanjutkan hidup meraih impian keluarga. Itulah nilai kehidupan keluarga.

Seandainya sang pencari nafkah yang dipanggil Tuhan tersebut meninggalkan warisan berupa aset belum tentu juga aset itu bisa langsung dimanfaatkan. Contohnya seperti terjadi pada keluarga Sinta tadi. Banyak sekali seluk beluk warisan yang susah dipahami ataupun susah ditangani oleh ahli waris. Bahkan kadang-kadang malah bisa menciptakan kemelut keluarga gara-gara aset tersebut.

“Ya udah, Dob…aku pamit dulu ya. Ntar kalo ada temenmu yang bersedia aku repotin tolong kabari aku”, Sinta berpamitan.

Dobi tersadar dari lamunannya dan segera mengantar Sinta ke gerbang depan. Setelah membereskan cangkir-cangkir di meja ia pun beranjak ke kamarnya. Merebahkan diri di ranjang, Dobi menatap langit-langit kamar sambil terus merenungkan keadaan Sinta.

“Kalau saja ayahmu mengikuti saran Nero untuk memiliki perlindungan, kamu sekarang gak perlu jungkir balik cari pinjaman. Uang pertanggungan dari asuransi berfungsi sebagai transfer aset & bisa kamu pakai untuk melunasi kewajiban terkait balik nama pabrik. Setelah pabrik menjadi atas namamu, silakan jual pabriknya dan gunakan dananya untuk apapun yang menjadi minat, keterampilan, maupun kebutuhanmu”, Dobi berkata dalam hati seolah-olah sedang berbicara dengan Sinta.

“Ya sudahlah…nasi sudah jadi bubur”, gumam Dobi. Segera setelah mandi, Dobi pun meninggalkan rumahnya untuk nongkrong dengan Tora & Nero.

Sukai & Bagikan Artikel Kami :

    Menu
    error: Mohon untuk tidak menyalin isi blog ini.