New to site?


Login

Lost password? (close)

Already have an account?


Signup

(close)
25
Mar
Pencuri Tak Kasat Mata

Setiap orang pasti tidak rela jika harta miliknya hilang atau diambil pihak lain tanpa izin. Apapun dilakukan demi melindungi aset-aset yang dimilikinya karena selalu akan ada pihak-pihak yang menginginkan aset tersebut. Mulai dari maling bertopeng yang masuk ke dalam rumah secara diam-diam, perompak siber yang berusaha menipu kita dengan iming-iming palsu, bahkan kadang-kadang ada oknum saudara/teman sendiri yang mencoba mengambilalih kepemilikan harta benda kita (pencuri hati tidak termasuk ya). Itu semua adalah pencuri yang jelas wujudnya.

Adakah pencuri tak berwujud? Ada. Dia bernama Inflasi.

Definisi inflasi secara sederhana menurut Bank Indonesia adalah meningkatnya harga-harga barang & jasa secara umum dan terus menerus. Definisi yang lain menyebutkan bahwa inflasi adalah menurunnya nilai mata uang. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya. Orang-orang yang lahir tahun 70an tentu bisa bersaksi sambil bernostalgia bahwa 40 tahun yang lalu uang Rp 100 bisa dipakai membeli banyak jajanan. Sedangkan saat ini bahkan untuk membeli sebutir permen saja tidak cukup dengan uang Rp 100. Begitulah sang pencuri tak kasat mata beraksi. Dia, pelan namun pasti, akan terus ‘mencuri’ nilai uang yang kita kumpulkan.

Menyimpan uang di bawah kasur, lemari besi atau bahkan tabungan di bank tentu saja tidak akan sanggup membendung penurunan nilai uang. Kita harus menggunakan jurus lain jika hendak mengantisipasi inflasi. Kita harus berinvestasi.

Sebagai gambaran kita coba bandingkan 3 cara mengembangkan uang yaitu melalui tabungan, emas, dan investasi. Jika tanggal 1 Januari 2018 harga motor yang kita inginkan (misal : Tipe Z) adalah Rp 12 juta namun kita berencana membeli motor baru 1 tahun kemudian pada tanggal 1 Januari 2019 sebagai hadiah ulang tahun putra kita maka sebaiknya kita simpan di mana uang Rp 12 juta tersebut?

  1. Tabungan bank. Rata-rata bunga bank setelah dikurangi pajak atas bunga masih di bawah tingkat inflasi di Indonesia. Artinya, uang yang disimpan di tabungan tidak bisa mengalahkan inflasi sehingga kita tetap merasakan penurunan daya beli. Jika 12 juta kita simpan sekarang di tabungan bank maka tahun depan kita tidak akan bisa membeli motor baru Tipe Z. Kalau masih menghendaki Tipe Z maka kita harus menambah uang agar motor tersebut bisa kita boyong ke rumah.
  1. Logam mulia / Emas. Emas memang sering menjadi wahana ‘investasi’ favorit keluarga-keluarga Indonesia. Perkembangan harganya juga masih lebih baik daripada tabungan bank. Jika 12 juta kita belikan emas sekarang maka tahun depan saat kita jual kembali emas itu kita masih bisa membeli satu unit motor baru Tipe Z yang kita idamkan. Sebenarnya, emas kurang pas juga disebut sebagai investasi walaupun masyarakat menganggapnya sebagai salah satu instrumen investasi. Emas lebih tepat disebut sebagai sarana lindung nilai (hedging). Logam mulia tersebut memelihara nilai uang yang kita miliki supaya tidak turun.
  1. Investasi. Investasi ada berbagai macam baik yang sederhana maupun rumit, fisik maupun non fisik, dan likuid maupun tidak likuid. Jika kita menempatkan uang Rp 12 juta kita ke dalam sebuah wahana investasi maka saat kita cairkan investasi tersebut tahun depan motor Tipe Z yang kita inginkan akan tetap terbeli. Bahkan, tergantung jenis investasinya, kita masih ada uang lebih dari investasi tersebut yang bisa digunakan untuk membeli kelengkapan tambahan, misalnya menambah helm, jas hujan, kunci tambahan, dll.

Pilihan mana yang kita ambil sepenuhnya tergantung situasi & kondisi, pemahaman, serta ketahanan kita terhadap risiko. Bagaimanapun juga, investasi masih tetap jurus yang ampuh untuk melawan inflasi. Namun, pilihlah wahana investasi yang sesuai dengan profil risiko kita. Selamat berinvestasi…

Sukai & Bagikan Artikel Kami :

    Menu
    error: Mohon untuk tidak menyalin isi blog ini.