New to site?


Login

Lost password? (close)

Already have an account?


Signup

(close)
05
Apr
Strategi Sang Satpam

Nero bergegas masuk ke dalam mobilnya sambil menenteng sebotol minuman dingin yang baru saja dibelinya. Setengah jam lagi dia ada janji temu dengan Pak Kromo, seorang pengusaha di bidang keamanan. Setelah beberapa teguk minuman Nero mulai menginjak pedal gas dan meluncur ke kediaman Pak Kromo di daerah Banyumanik. Sampai di kediaman beliau Nero langsung disambut ramah Pak Kromo yang sedang duduk-duduk di teras rumah, “Silakan duduk, mas Nero…tunggu sebentar ya. Saya ke dalam sebentar”.

Sambil mengiyakan sapaan pak Kromo sekilas Nero melirik sebuah plakat yang menempel di dinding depan rumah yang bertuliskan : “Abaikan Anjingnya, Waspadalah Terhadap Tuan Rumah”. Nero tersenyum kecil membaca tulisan bernada humor intimidatif tersebut. Dia sudah mendengar reputasi Pak Kromo dari para koleganya yang mengatakan bahwa Pak Kromo itu ramah, cerdas, suka becanda namun di sisi lain dia juga punya pendirian yang sulit digoyang, agak keras kepala dan kadang tidak sabaran.

“Monggo…dicicipi ya”, Pak Kromo muncul sambil membawa nampan berisi makanan ringan & minuman.

“Aduh, pak…kok repot-repot”, sambut Nero berbasa-basi. Walaupun perutnya masih agak kembung setelah minum tadi Nero tetap menyambut tawaran Pak Kromo demi sopan santun.

Setelah ngobrol ngalor ngidul sejenak, Nero bermaksud mengarahkan pembicaraan masuk ke topik utama yaitu asuransi. Sesuatu yang memang menjadi tujuan utama kehadirannya di rumah Pak Kromo. Sedetik sebelum Nero membuka mulut, Pak Kromo menyergah, “Saya belum tertarik ikut asuransi, mas”. Nero sebenarnya sudah memperkirakan tanggapan Pak Kromo tersebut berdasarkan cerita dari rekan-rekannya di perusahaan asuransi lain.

“Oya? Boleh tahu kenapa, pak?”, tanya Nero.

“Bukannya sombong, tapi dari sisi kesehatan saya merasa bugar karena tuntutan profesi. Lalu, saya juga sudah mempersiapkan warisan untuk keluarga saya. Walaupun tidak banyak sekali”, urai Pak Kromo.

“Bagus itu, pak…kesadaran dan persiapan bapak termasuk di atas rata-rata orang pada umumnya”, puji Nero. Lalu, Nero mengalihkan topik pembicaraan, “Ngomong-ngomong bapak bisa membuat perencanaan keamanan juga?”.

Mata Pak Kromo langsung berbinar. Posisi duduknya berubah penuh semangat. Pak Kromo memang sangat mencintai & menguasai profesinya. Puluhan tahun pengalamannya di bidang keamanan turut memupuk kompetensinya.

“Tentu saja, mas. Selain menyediakan jasa outsourcing satpam saya juga memberikan konsultasi keamanan”, sambut Pak Kromo.

“Pernah mengamankan gudang, pak? Bagaimana perencanaan keamanan gudang secara umum, pak?”, Tanya Nero.

“Begini. Umumnya saya bagi 2 wilayah besar yaitu di luar & di dalam gudang. Untuk pengamanan luar kita bagi 2 lagi yaitu membina hubungan dengan penduduk sekitar gudang termasuk centeng lokalnya. Lalu, pengamanan  menggunakan tenaga-tenaga satpam yang berpatroli di luar gudang dengan sistem shift ditambah dengan CCTV & lampu sorot. Sedangkan di dalam gudang kita pasang CCTV juga, trik tipuan/decoy, bahkan kalau anggaran mengizinkan bisa juga ditambahkan alarm sensor gerak, tambahan satpam hingga anjing penjaga”, Pak Kromo memaparkan panjang lebar.

“Tapi itu baru gambaran umum ya, mas…belum detil. Tergantung sikon klien dan nilai barang yang tersimpan di gudang. Semakin tinggi nilainya maka sistem keamanannya semakin berlapis-lapis”, tambah Pak Kromo dengan mimik serius.

“Saya percaya bapak bisa merinci lagi sampai ke tahap rencana anggaran, diagram dan bagan-bagan serta petunjuk pelaksanaannya, pak. Tapi ada satu kalimat bapak yang menarik perhatian saya yaitu nilai yang tinggi harus diamankan secara berlapis”, pelan-pelan Nero berucap sambil mencoba mengamati respon Pak Kromo.

“Ya…ya…ya…saya paham maksudmu, mas. Pinter sampeyan…ha…ha…ha”, Pak Kromo menjawab sambil tergelak, “tapi monggo jelaskan lagi siapa tahu saya salah paham”.

Nero menghela napas lalu menjelaskan, “Jika suatu barang kita amankan sedemikian rupa apalagi nilai kehidupan keluarga yang tentunya jauh lebih tinggi nilainya. Memang benar bapak sudah berupaya menjaga kebugaran, mendidik kemandirian putra-putri, mempersiapkan bekal materi untuk istri, bahkan selalu berdoa mohon keselamatan dan upaya-upaya lain yang saya tidak tahu. Seperti bapak sampaikan tadi, keamanan tergantung pada lapis demi lapis pertahanan yang kita susun. Jebol lapis pertama masih ada lapis kedua. Jebol lapis kedua masih ada lapis ketiga, dst. Nah, Pak Kromo, asuransi adalah lapis terakhir pertahanan keamanan finansial keluarga bapak. Ini akan melengkapi seluruh rangkaian pertahanan yang bapak telah susun”.

Pak Kromo mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Masuk akal, mas. Saya mulai nangkep. Coba besok kita ngobrol lebih detil lagi ya”.

“Baik, pak. Besok saya ke sini lagi”, jawab Nero.

Setelah berbincang-bincang ringan sejenak, Nero akhirnya pamit undur diri dari kediaman Pak Kromo. Dia harus bergegas karena masih ada 2 janji temu lagi yang harus ia hadiri.

Sukai & Bagikan Artikel Kami :

    Menu
    error: Mohon untuk tidak menyalin isi blog ini.