Para pelaku usaha asuransi di Indonesia tentu paham dengan adagium “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang telah berkumandang sejak awal masa republik ini. Mengikuti peribahasa tersebut, tanggal 1 Pebruari 1957 industri asuransi di Indonesia berkumpul dalam suatu asosiasi yaitu Dewan Asuransi Indonesia (DAI) yang merupakan wadah tunggal bagi semua perusahaan asuransi umum, jiwa, sosial, dan reasuransi di seluruh Indonesia. Pendiri DAI saat itu 28 perusahaan asuransi kerugian & 1 perusahaan reasuransi swasta nasional dengan tujuan awal untuk menghadapi dominasi perusahaan asuransi asing di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, pada Kongres DAI ke-10 tanggal 22-23 Januari 2002 para anggota memutuskan mendirikan asosiasi sejenis sesuai dengan bidang usaha masing-masing namun tetap sebagai bagian dari DAI. Sehingga terbentuklah :

  1. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) beranggotakan perusahaan-perusahaan asuransi jiwa.
  2. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dengan anggota perusahaan-perusahaan asuransi umum & reasuransi.
  3. Asosiasi Asuransi & Jaminan Sosial Indonesia (AAJSI) yang memiliki anggota perusahaan-perusahaan asuransi sosial.

Berbeda dengan AAJI & AAUI, masyarakat relatif kurang mengenal AAJSI. Sebaliknya, belakangan publik lebih familiar dengan AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia). Kemudian, pada tanggal 19 September 2005 DAI berubah nama menjadi Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI). Namun, karena adanya kendala-kendala teknis internal maka dalam rapat anggotanya tanggal 30 Juni 2010 diputuskan untuk kembali lagi menggunakan nama DAI.

Walaupun jenis usahanya berbeda-beda, namun asosiasi-asosiasi tersebut punya tujuan yang serupa yaitu sebagai penyalur aspirasi anggota-anggotanya, menerapkan standar praktik & kode etik penyelenggaraan usaha asuransi demi terciptanya persaingan pasar yang sehat, serta menjadi mitra pemerintah Republik Indonesia dalam hal pembinaan dan pengawasan kegiatan usaha asuransi jiwa dan reasuransi yang berkontribusi pada perekenomian nasional.

Sebagai upaya menjaga profesionalitas maka asosiasi-asosiasi tersebut menyelenggarakan ujian bagi tenaga pemasar asuransi di Indonesia dan sekaligus memberikan lisensi kepada tenaga pemasar yang lulus ujian. Upaya standarisasi semacam ini memang penting dilakukan agar para tenaga pemasar bisa mengedukasi calon nasabah dengan baik & benar tanpa melakukan kesalahan penjualan (misselling).

Seorang agen asuransi yang memiliki lisensi asosiasi ibaratnya seperti seorang pilot yang memiliki lisensi penerbangan sebagai bukti kompetensinya. Dalam hal perasuransian, nasabah bisa berdiskusi dengan baik bersama agen yang memiliki lisensi saat mempertimbangkan produk perlindungan yang paling pas bagi situasi & kondisi nasabah. Jadi, saat bertemu dengan tenaga pemasar asuransi, jangan lupa tanyakan lisensi asosiasinya ya…

 

Marketing

Marketing

Saya adalah mitra bisnis Allianz yang berkomitmen memberikan layanan perlindungan sepenuh hati & sepenuh waktu bagi anda. jika anda ingin memiliki perlindungan terbaik dan atau peluang bisnis yang membuat anda mampu mengelola waktu serta keuangan yang jauh lebih fleksibel, silahkan hubungi saya di nomor +6281 325 325 171

Leave a Reply

Mulai chat
1
Butuh Bantuan ?
Halo, terima kasih telah mengunjungi Asuransi Jiwa dan Umum Terbaik Indonesia, kami akan melayani Anda dengan sepenuh hati. Silahkan klik tombol "Mulai Chat"